demo.tokoh.co.id/, Kyoto – Ada sensasi yang berbeda ketika pertama kali menginjakkan kaki di negara baru—seperti di Kyoto, Jepang salah satu ibu kota kuno Jepang yang sudah berusia lebih dari 1.000 tahun. Meski disebut kota kuno, namun rasanya tidak begitu karena suasana sekitar dan ritme kehidupan di kota ini sudah cukup modern tanpa meninggalkan esensi budaya yang sudah dilakukan sejak ribuan tahun sebelumnya, Trendies.
Sebelum tiba di Kyoto, tim Trends sudah menjelah di Osaka selama tiga hari—disini lah kami menemukan perbedaan menarik. Meski sama-sama di Jepang, suasana dan kebiasaan sehari-hari antardua kota ini terasa berbeda. Dibandingkan Osaka, vibes Kyoto lebih tenang dan klasik, mulai dari lanskap bersejarah seperti kuil, shrine, taman hingga bangunan bersejarah yang rasanya sayang jika tidak dinikmati dengan berjalan kaki santai perlahan.
Menyelami indahnya danau di Arashiyama
Hari pertama di Kyoto, kami memilih langsung mengunjungi destinasi wisata sejuta umat di Kyoto yaitu Arashiyama. Untuk menuju ke tempat ini cukup naik kereta dari Katsura Station dengan menempuh waktu perjalanan kurang lebih 30 – 40 menit dengan biaya sekitar ¥420 atau Rp45 ribu. Sepanjang perjalanan di kereta, kami menikmati lanskap kota Kyoto yang begitu indah, rapih dan tenang.
Baca Juga Sinergi Astra untuk Pendidikan Berkelanjutan di Lebak, Banten
Sesampainya di stasiun Arashiyama, kami masih harus berjalan kaki selama 5 menit untuk sampai ke spot populer yaitu tepi Sungai Katsura yang di kelilingi lembah dan hutan bambu. Kami tiba sekitar pukul 14.30, dan cuacanya terasa pas banget.
Walaupun sedang musim dingin dengan angin yang cukup kencang, sinar matahari sore itu jatuh tepat di atas sungai dan memberi kehangatan yang nyaman. Di sini, pelancong bisa mencoba bermain kano di danau atau sekadar duduk santai sambil menikmati kopi ikonik dari %Arabica Coffee, Kyoto.
Baca Juga Cara Mengatur Keuangan agar Libur Akhir Tahun 2025 Enggak Boncos dan Bebas StresSatu hal yang selalu bikin kami kagum adalah kebersihan setiap destinasi di Jepang—nyaris tanpa tumpukan sampah. Bahkan aliran sungainya pun terlihat sangat jernih, sampai rasanya ingin nyemplung… atau minimal diminum karena kelihatan segar banget.

Hutan Bambu Ikonik, Destinasi Sejuta Umat
Sebelum hari semakin gelap, kami memutuskan bergeser mengunjungi salah satu tempat yang tak kalah ikonik yaitu Hutan Bambu Arashiyama yang terletak di dekat kuil Tenryu-ji. Destinasi ini wajib Trendies jelajahi karena bangunannya begitu mempesona.
Baca Juga Makna Isra Miraj 2026: Perjalanan Langit yang Mengubah Arah Hidup Umat IslamSaat memasuki kuil, terdapat bangunan seperti rumah bahkan nampak seperti vila dengan arsitektur yang tradisional dan futuristik ala Jepang. Area Tenryu-ji sendiri sudah berdiri sejak tahun 1339 oleh Shogun Ashikaga Takauji.
Dahulu, lokasi ini merupakan tempat tinggal atau istana kecil milik beberapa kaisar Jepang, namun saat ini fungsinya sudah bergeser sebagai tempat ibadah, pusat spiritual dan situs warisan budaya.

Setelah jalan kaki sekitar kurang lebih 10 menit menyusuri area penuh bangunan bersejarah khas Kyoto, akhirnya kami sampai juga di Hutan Bambu Arashiyama, hutan bambu ikonik yang jadi salah satu destinasi wajib saat wisata ke Jepang. Sore itu suasananya relatif sepi—nggak terlalu banyak turis—jadi terasa lebih tenang dan syahdu.
Sayangnya, karena sudah mendekati senja, cahaya matahari mulai redup sehingga keindahan deretan bambu dengan tinggi mencapai 20 – 30 meter tidak terlihat maksimal. Meski begitu, berjalan di antara batang-batang bambu yang bergoyang pelan tertiup angin tetap memberi pengalaman yang unik dan menenangkan.
Kawasan ini berada di barat Kyoto dan dikenal sebagai salah satu spot paling fotogenik di Kyoto, Jepang. Uniknya pepohonan ini dapat menghasilkan suara alami yang khas ketika saling bergesekan—bahkan suara ini masuk dalam daftar “100 Soundscapes of Japan” yang dilestarikan pemerintah Jepang.
Kalau Trendies tertarik untuk datang kesini, waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari saat cahaya masih lembut dan belum terlalu ramai pengunjung, sehingga suasana terasa lebih magis dan ideal untuk menikmati keindahan alam sekaligus berburu foto estetik.

Batu Penuh Harapan hingga spot hidden gem di rel kereta
Tidak berhenti di Hutan Bambu, kami menyusuri jalan hingga bertemu spot unik lainnya sebuah kuil kecil yang memiliki batu besar berbentuk unik yang disebut Kame Ishi (Batu Kura-kura), atau, alternatifnya, Kami Ishi (Batu Ilahi). Konon, jika Trendies menggosok batu ini dan berdoa di atasnya, keinginanmu akan terkabul dalam waktu satu tahun. Menarik, ya! Para turis juga bisa mengisi doa dan harapan di atas potongan kayu dan menggantungnya di atas batu tersebut.

Kawasan Hutan Bambu Arashiyama yang begitu luas membuat kami enggan berhenti berjalan hingga menemukan jalur kereta yang masih aktif. Ternyata lokasi ini menjadi salah satu spot yang tak kalah estetik juga untuk berfoto. Setiap kurang lebih 20 menit, kereta melintas dan para turis sibuk bergantian foto dengan latar belakang kereta ditambah pohon-pohon bambu, latar pemandangan cantik yang mungkin tidak mudah didapatkan dalam keseharian.

Setelah sekitar satu jam berjalan kaki, kami sampai di sebuah kompleks perumahan dengan arsitektur rumah khas Jepang yang beberapa diantaranya sudah didesain modern. Di sana juga ada taman bermain anak–sore itu dipenuhi tawa sekelompok anak lokal yang sedang bermain bola. Suasananya terasa hangat dan ramah, membuat pengalaman traveling di Kyoto bukan cuma soal destinasi, tapi juga interaksi manusia yang bikin perjalanan terasa lebih hidup.
Di kompleks ini, penduduk lokal dapat membangun usaha mandiri atau UMKM seperti cafe minimalis yang menyediakan makanan dan minuman khas, buah-buahan, es krim, mochi dan berbagai olahan matcha hingga suvenir art craft yang sangat unik dan cocok untuk oleh-oleh kembali ke negara asal.

Ketika akan kembali ke hotel, sebuah kedai ramen kecil bernama Men Sakaba Hakoya menarik perhatian kami. Berlokasi di area popular Kiyamachi Dori Street, kedai ramen sekaligus bar ini menghadirkan konsep intimate dan autentik kash Jepang. Dari pintu masuk, langsung terlihat bar panjang yang hanya muat enam hingga tujuh orang, menciptakan pengalaman makan yang personal dan berkesan. Begitu masuk, penulis langsung disambut hangat oleh sang pemilik, pria lokal Jepang yang ramah dan murah senyum, membuat suasana terasa seperti mampir ke tempat langganan sendiri.
Menu di ramen bar ini memang tidak banyak, namun justru jadi daya tarik tersendiri karena fokus pada kualitas rasa. Pilihannya meliputi daging sapi dan babi panggang, ramen daging, ramen kari, hingga ramen vegetarian yang cocok untuk berbagai preferensi traveler.
Malam itu, semangkuk ramen sapi hangat dan segelas whiskey highball menemami kami menutup hari. Suasana hangat, makanan yang comforting, dan interaksi sederhana dengan pemilik kedai membuat pengalaman ini terasa spesial dan memorable. Bahkan sebelum pulang, sang owner memberikan buah tangan berupa dua miniatur bebek kecil yang lucu sebagai kenang-kenangan — momen sederhana yang bikin pengalaman wisata kuliner di Kyoto terasa lebih personal dan sulit dilupakan.

Kyoto Morning Temple Walk: Tenang, Estetik, dan Penuh Makna
Hari kedua di Kyoto, kami memutuskan untuk mengeksplor kuil bersejarah sekaligus coffee shop lokal yang tersebar di area tengah kota. Selama perjalanan, kami menginap di Hotel Keihan Kyoto Ekiminami yang lokasinya persis di seberang Kyoto Station — pilihan strategis untuk memangkas waktu perjalanan dan memudahkan mobilitas ke berbagai destinasi wisata Kyoto.
Salah satu tujuan utama hari itu adalah Toji Temple. Dari Kyoto Station, perjalanan hanya membutuhkan satu pemberhentian kereta dengan jarak sekitar 1,5 km dan biaya transportasi sekitar ¥180 (kurang lebih Rp18 ribuan). Meski Kyoto punya banyak destinasi populer seperti Fushimi Inari Taisha atau kawasan Gion yang selalu ramai wisatawan, tim Trends sengaja memilih Toji Temple untuk merasakan sisi Kyoto yang lebih tenang dan autentik.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 10.00 pagi. Matahari terlihat cukup terik, namun suhu udara masih berada di angka 4°C dengan angin dingin khas musim dingin Jepang. Setelah total perjalanan sekitar 15 menit — kombinasi kereta dan jalan kaki — akhirnya tiba di kawasan Toji Temple yang terletak di Minami-ku, Kyoto.
Sepanjang berjalan kaki menyusuri jalanan Minami-ku, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Bukan hanya karena lingkungannya yang bersih, rapi, dan tenang, tetapi juga suasana lokal yang terasa sangat hidup dan autentik.
Di sepanjang rute menuju Toji Temple, terdapat berbagai toko kecil seperti bookstore, coffee shop lokal, laundry, bar kecil, hingga minimarket. Kawasan ini terasa sederhana namun lengkap — potongan kecil kehidupan Kyoto yang justru membuat pengalaman wisata di Jepang terasa lebih personal, bahkan menggugah rasa ingin tinggal di kota ini.

Toji Temple dikenal sebagai salah satu kuil penting di Kyoto yang sudah ada sejak kota ini menjadi ibu kota Jepang. Kuil ini berkaitan erat dengan ajaran Buddha Shingon dan hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah dan terdapat beberapa kuil di dalamnya dengan beragam tujuan ibadah di setiap kuilnya.
Kombinasi arsitektur kayu, halaman luas, dan elemen alam menciptakan pengalaman slow travel yang jarang ditemukan di destinasi populer yang terlalu ramai turis. Suasana Toji Temple terasa berbeda dari destinasi wisata mainstream seperti Fushimi Inari atau Gion District karena jalur jalan kaki begitu luas, pepohonan rindang, dan suara angin memberi pengalaman eksplorasi yang santai. Banyak pengunjung memilih berjalan pelan sambil menikmati detail bangunan atau sekadar duduk menikmati ketenangan.

Bukan hanya destinasi wisata Kyoto biasa, setiap sudutnya menyimpan cerita sejarah yang terasa nyata melalui bangunan yang tetap dipertahankan secara autentik. Ditambah aura tradisi yang masih terjaga, membuat berjalan di area temple penuh atmosfer spiritual yang tenang.
Area sekitar Minami-ku juga menawarkan suasana lokal yang hangat. Toko kecil, coffee shop sederhana, minimarket, hingga aktivitas warga sehari-hari membawa pengalaman traveling terasa lebih nyata. Interaksi kecil dengan lingkungan sekitar memberi perspektif baru tentang kehidupan Kyoto di luar jalur wisata populer.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Toji Temple
- Jalan santai menikmati arsitektur klasik Jepang.
- Mengamati ritual ibadah dan tradisi lokal secara respectful.
- Fotografi arsitektur, street photography, atau konten travel storytelling.
- Menikmati momen tenang dan refleksi diri.
- Membeli buah tangan hasil karya para penduduk lokal, hingga anak-anak yang bersekolah di sekitar kuil. Disini menjual beragam souvenir menarik mulai dari miniatur, gantungan kunci dengan tulisan dan harapan-harapan, cokelat, lukisan, scarf dan masih banyak lagi.

Tips Berkunjung ke Toji Temple untuk First Timer
Waktu Terbaik dan Persiapan
Datang di pagi hari memberikan pengalaman lebih sepi dan nyaman untuk eksplorasi. Musim dingin di Kyoto bisa terasa sangat dingin meski matahari terlihat cerah, jadi gunakan pakaian hangat. Perjalanan dari Kyoto Station relatif mudah dan singkat, cocok untuk itinerary singkat maupun half-day trip.

Etika Berkunjung ke Kuil di Jepang
Pengunjung sebaiknya menjaga ketenangan, menghormati area ibadah, dan menghindari suara keras. Hal kecil seperti berjalan pelan dan memperhatikan signage lokal membantu menjaga suasana sakral temple. Terpenting hindari mengambil foto para pemuka agama; biksu dan lainnya di sekitar kuil.
Toji Temple membuktikan bahwa keindahan Kyoto tidak selalu tentang keramaian atau spot populer. Tempat ini menghadirkan kombinasi sejarah, arsitektur klasik, dan kehidupan lokal yang berjalan alami. Bagi first timer yang ingin merasakan sisi Kyoto yang lebih tenang, reflektif, dan autentik, Toji Temple bisa menjadi destinasi yang meninggalkan kesan mendalam sepanjang perjalanan.