demo.tokoh.co.id/, Jakarta – Bencana banjir dan tuberkulosis adalah dua persoalan yang saling berkelindan dan berpotensi memperburuk krisis kesehatan masyarakat jika tidak ditangani secara serius. Di tengah upaya nasional menjadikan pengendalian TB sebagai program prioritas, situasi bencana justru menghadirkan tantangan berlapis—mulai dari pengobatan yang terputus hingga risiko penularan yang meningkat.
Pesan tegas ini disampaikan oleh Prof Tjandra Yoga Aditama, yang menekankan bahwa keberhasilan pengendalian tuberkulosis tidak boleh berhenti hanya karena kondisi darurat. Justru, menurutnya, ada lima dampak utama bencana banjir terhadap penanganan TB yang harus segera menjadi prioritas di lapangan.
Baca Juga Sering Kurang Minum Air Putih, Waspada Dampaknya bagi Kesehatan TubuhBencana Banjir dan Tuberkulosis, TB Tetap Harus Ditangani
Banjir yang masih melanda berbagai wilayah di Indonesia bukan hanya merusak infrastruktur dan memaksa warga mengungsi, tetapi juga mengganggu layanan kesehatan esensial. Tuberkulosis—penyakit menular kronis yang memerlukan terapi jangka panjang—menjadi salah satu yang paling terdampak. Itu sebabnya bencana banjir dan tuberkulosis memiliki keterkaitan.

“Karena itu perlu ada upaya maksimal agar program pengendalian tuberkulosis dapat tetap dijaga berjalan baik walaupun di situasi bencana seperti sekarang ini,” tulis Prof Tjandra melalui pesan yang diterima Trends, Minggu (21/12).
Baca Juga Cuti Bersama Desember 2025, 5 Cara Menikmati Libur Nataru dengan Lebih Sehat dan BerkesanIa mengingatkan bahwa ada lima hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan bencana banjir dan tuberkulosis, yang semuanya membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.
1. Pengobatan Tuberkulosis Tidak Boleh Terputus Saat Bencana Bajir
Hal pertama dan paling krusial adalah keberlanjutan konsumsi obat anti tuberkulosis (OAT). Pasien TB wajib mengonsumsi OAT setidaknya selama enam bulan tanpa putus.
Baca Juga Makan Banyak tapi Tetap Langsing Bukan Mitos, Ini Kata Dokter Gizi“Dengan bencana maka pasien jadi tidak dapat datang ke Puskesmas atau Rumah Sakit dimana dia biasa mengambil obat, baik karena rumahnya rusak maupun karena jalan terputus,” jelas Prof Tjandra.
Masalah diperparah dengan rusaknya fasilitas kesehatan, termasuk instalasi farmasi penyimpan OAT. Distribusi obat ke daerah terdampak pun sering terhambat akibat jalur transportasi yang terputus. Semua kendala ini, menurutnya, harus segera diatasi agar pasien TB tetap minum obat sesuai jadwal demi kesembuhan dirinya.
2. Gangguan Diagnosis Akibat Kerusakan Alat Kesehatan
Dampak kedua adalah terganggunya proses diagnosis. Penegakan diagnosis TB idealnya dilakukan melalui Tes Cepat Molekuler (TCM). Namun, di lapangan, banyak alat TCM yang rusak akibat banjir.
“Kenyataan lapangan bahwa cukup banyak alat TCM yang rusak terkena bencana, dan ini jelas perlu segera diperbaiki,” tulisnya.
Alternatif diagnosis menggunakan foto rontgen pun tidak selalu tersedia karena alat rontgen dan ruangannya juga bisa terdampak banjir, sehingga membutuhkan perbaikan cepat agar layanan diagnosis TB tetap berjalan.
3. Risiko Penularan Meningkat di Lokasi Pengungsian
Bencana banjir sering memaksa warga tinggal di pengungsian dengan kepadatan tinggi. Kondisi ini menjadi faktor risiko serius bagi penularan TB.
“Yang patut jadi perhatian pula adalah kemungkinan peningkatan penularan dari pasien TB ke sekitarnya, khususnya pada kerumunan padat di lokasi pengungsian,” tegas Prof Tjandra. Tanpa ventilasi memadai dan skrining aktif, penularan TB bisa terjadi lebih cepat dan luas.
4. Penurunan Daya Tahan Tubuh dan TB Dorman
Dampak keempat yang sering luput adalah menurunnya daya tahan tubuh akibat bencana. Stres, kurang gizi, dan kondisi hidup yang tidak layak dapat memicu kuman TB yang sebelumnya “dorman” menjadi aktif.
“Bukan tidak mungkin membuat kuman TB yang ‘dorman’ jadi bangkit dan menimbulkan penyakit tuberkulosis dengan berbagai gejala dan dampaknya,” tulis Prof Tjandra. Artinya, bencana banjir tidak hanya memperparah kasus lama, tetapi juga berpotensi memunculkan kasus TB baru.
5. Ketahanan Sistem Kesehatan Jadi Kunci
Terakhir, pengendalian TB—seperti program kesehatan lainnya—sangat bergantung pada sumber daya manusia, sarana prasarana, dan sistem kerja yang solid.
“Amat diperlukan ketahanan /resiliensi kesehatan yang kuat setidaknya sampai beberapa bulan ke depan,” tegasnya. Resiliensi ini mencakup kesiapan tenaga kesehatan, pemulihan fasilitas, serta sistem distribusi obat dan logistik yang adaptif terhadap situasi bencana.
Pesan Prof Tjandra menegaskan satu hal penting: bencana banjir tidak boleh menjadi alasan terhentinya pengendalian tuberkulosis. Justru di masa krisis, perhatian terhadap TB harus diperkuat agar Indonesia tidak menghadapi lonjakan kasus di kemudian hari.
Upaya lintas sektor, respons cepat, dan ketahanan sistem kesehatan menjadi kunci agar program TB tetap berjalan, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun.