demo.tokoh.co.id/, BandungStroke sering dianggap sebagai takdir yang jatuh tiba-tiba. Padahal, dalam banyak kasus, ia adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diabaikan selama bertahun-tahun.

“Sekitar 90 persen stroke sebenarnya bisa dicegah,” kata dr. Novian, Sp.N dalam sebuah seminar kesehatan yang digagas RS Hermina Arcamanik  bersama komunitas stroke Kawan Stroke Indonesia (KASI) di Bandung pada 27 November 2025. 

“Masalahnya, kita baru sadar setelah serangan pertama terjadi.”

Baca Juga Super Flu Masuk Indonesia, Kapan Perlu Minum Obat Flu Antiviral?

Novian menekankan, stroke bukan peristiwa instan. Ia adalah akumulasi.

Musuh yang Tak Bersuara

Hipertensi masih menjadi faktor risiko terbesar. Ironisnya, ia jarang menimbulkan keluhan.

“Banyak pasien merasa sehat meski tekanan darahnya sangat tinggi,” ujar dr. Novian. “Padahal pembuluh darahnya sudah berada di ambang bahaya.”

Selain hipertensi, risiko stroke bertambah oleh diabetes, kolesterol tinggi, gangguan irama jantung, obesitas, stres kronis, dan kebiasaan merokok—termasuk rokok elektrik.

“Vape tidak lebih aman,” tegasnya. “Dampaknya pada pembuluh darah tetap ada.”

Baca Juga Riset Ungkap Kefir Bisa Jadi Minuman Awet Muda, Lawan Penuaan dari Dalam Tubuh

Lemak yang Salah Tempat

Dalam pencegahan stroke, berat badan bukan satu-satunya patokan. Justru lingkar perut menjadi indikator penting.

“Untuk pria, idealnya di bawah 90 cm. Wanita di bawah 80 cm,” jelas dr. Novian. Lemak di perut berkaitan erat dengan resistensi insulin, peradangan, dan penyempitan pembuluh darah.

Kolesterol dan Angka yang Sering Diabaikan

Banyak orang merasa aman hanya karena kolesterol total normal. Padahal yang menentukan risiko stroke adalah LDL atau kerap disebut kolesterol jahat.

“Untuk orang sehat, LDL sebaiknya di bawah 100. Untuk penyintas stroke, targetnya di bawah 70, bahkan lebih rendah,” kata dr. Novian. Pemeriksaan rutin menjadi bagian penting dari pencegahan jangka panjang.

Baca Juga Kasus Super Flu di Amerika Serikat Memburuk, Pakar Soroti 5 Hal Penting

Gerak sebagai Bentuk Perlindungan

Aktivitas fisik bukan sekadar gaya hidup sehat, melainkan strategi medis. Olahraga teratur dapat menurunkan risiko stroke hingga 25 persen.

“Tidak perlu ekstrem,” ujar dr. Novian. “Yang penting konsisten. Jalan kaki pun cukup.”

Setelah Stroke, Tidak Ada Ruang Lengah

Bagi penyintas stroke, pencegahan menjadi komitmen seumur hidup. Risiko serangan ulang selalu mengintai—dan sering kali lebih berat.

“Obat pengencer darah, kontrol rutin, dan perubahan gaya hidup bukan pilihan, tapi keharusan,” tegasnya.

Menjaga Otak, Menjaga Masa Depan

Stroke bukan semata soal bertahan hidup, melainkan soal kualitas hidup. Tentang apakah seseorang bisa kembali berbicara, berjalan, dan menjalani hari dengan utuh.

“Menjaga pembuluh darah hari ini adalah investasi untuk masa depan,” tutup dr. Novian.

Karena pada akhirnya, stroke bukan hanya urusan medis. Ia adalah cermin dari cara kita merawat tubuh—dan waktu.

Kolaborasi KASI dan RS Hermina Arcamanik

Penanganan segera pada gejala stroke menjadi kunci utama pemulihan pasien stroke. Menyadari hal ini, KASI dan RS Hermina Arcamanik menjalin kolaborasi terkait penanganan stroke yang ditandai dengan penandatanganan kerja sama pada 27 November 2025. 

Kerja sama RS Hermina Arcamanik dan KASI akan melahirkan sejumlah program, mulai dari edukasi publik, pelatihan caregiver, pendampingan psikososial, support group rutin, hingga pemantauan telemedicine.

Baik rumah sakit maupun KASI percaya bahwa pemulihan stroke tidak boleh hanya bergantung pada obat dan perawatan medis. Lingkungan sosial, keluarga, motivasi, serta komunitas turut menentukan keberhasilan pemulihan.