demo.tokoh.co.id/, Jakarta – Seiring perkembangan teknologi yang semakin menyatu dengan keseharian masyarakat modern, ruang digital kini telah menjadi tempat bertumbuh dan belajar bagi anak dan orang muda. Namun, di sisi lain, ruang digital juga berisiko bagi kelompok usia tersebut. Momentum Safer Internet Day 2026 dimaknai Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA) sebagai pengingat kolektif bahwa perlindungan anak di dunia digital bukan sekadar isu teknologi, melainkan soal keselamatan, keberdayaan, dan tanggung jawab bersama lintas generasi.
Melalui kegiatan Bangun Resiliensi Digital, Wujudkan Ruang Aman dari Kekerasan Luring dan Daring yang digelar Rabu (4/2), SEJIWA tidak hanya menjadikan acara ini sebagai peringatan tahunan, tetapi juga sebagai ajakan kolaboratif lintas sektor untuk merespons tantangan nyata yang dihadapi anak-anak hari ini.
Resiliensi Digital: Lebih dari Sekadar Aman Online
Resiliensi digital tidak semata tentang kemampuan teknis menggunakan gawai atau aplikasi. Ia mencakup kapasitas anak, keluarga, dan komunitas untuk mengenali risiko, melindungi diri, serta pulih ketika kekerasan terjadi—baik di ruang digital maupun luring.
Pendekatan inilah yang diangkat SEJIWA sebagai jawaban atas meningkatnya kasus kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak. Teknologi, seberapa pun canggihnya, tetap membutuhkan ekosistem yang sadar risiko dan berpihak pada keselamatan anak.
Kegiatan SID 2026 ini melibatkan sekitar 200 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, hingga platform digital. Menariknya, separuh peserta merupakan anak dan orang muda berusia 16–24 tahun. Sebuah penegasan bahwa perlindungan anak di dunia digital tak bisa dibicarakan tanpa menghadirkan suara mereka sebagai subjek utama.
Dari Komunitas untuk Anak: Pembelajaran Proyek SUFASEC
Momentum Safer Internet Day 2026 juga menjadi penutup Proyek SUFASEC (Stepping up the Fight Against Sexual Exploitation of Children Online & Offline), inisiatif tiga tahun yang dijalankan di 12 negara dan didukung Pemerintah Belanda melalui aliansi Down to Zero bersama Child Rights Coalition Asia.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, SEJIWA membangun kapasitas anak dan pendamping dewasa di wilayah-wilayah rentan Jakarta. Fokusnya bukan hanya pencegahan, tetapi juga deteksi dini, pendampingan, dan rujukan yang tepat bagi korban.
“Safer Internet Day bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa perlindungan anak di ruang digital adalah tanggung jawab bersama,” ujar Diena Haryana, Founder SEJIWA.
“Melalui penguatan resiliensi digital dan pendekatan berbasis komunitas, kami ingin memastikan anak-anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga berdaya dan berani bersuara.”
Ia menegaskan bahwa anak dan orang muda memiliki potensi besar sebagai agen perubahan ketika dibekali pengetahuan dan dukungan yang tepat.
Ruang Aman dan Kolaborasi Lintas Generasi
Pada kesempatan yang sama, SEJIWA meluncurkan Ruang Aman SEJIWA, sebuah ruang berbasis komunitas di empat area yang berfungsi sebagai tempat berbagi, pendampingan awal, dan rujukan bagi korban. Ruang ini digerakkan oleh aktivis komunitas terlatih yang terhubung dengan helpline SEJIWA.
Dukungan pemerintah terhadap pendekatan kolaboratif ini disampaikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
“Anak dan orang muda bukan bagian dari masalah, melainkan bagian dari solusi,” tegas Woro Srihadtuti Sulistyaningrum, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan di Jakarta, Rabu (4/2).
“Membangun ruang digital yang aman membutuhkan kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor.”
Baca Juga Mengajarkan Anak Puasa Ramadan Sejak Dini, Simak Tips Aman dari Pakar Kesehatan AnakPernyataan ini menegaskan bahwa ruang aman digital tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus ditopang sistem, komunitas, dan keluarga yang paham serta peduli.
Suara Anak: Dari Edukasi Menuju Aksi Nyata
Pengalaman anak dan orang muda menjadi salah satu sorotan utama. Iva, peserta Proyek SUFASEC, berbagi bahwa proses penguatan kapasitas membuatnya lebih berani mengenali batasan pribadi dan membantu teman sebaya.
“Melalui Proyek SUFASEC, saya belajar untuk lebih menghargai diri sendiri dan berani membantu teman yang menghadapi risiko kekerasan,” ujarnya.

Senada, Kayla menekankan pentingnya edukasi sejak dini. “Banyak kasus berawal dari relasi yang dianggap aman. Anak dan orang muda perlu dibekali pemahaman agar mampu mengenali risiko dan melindungi diri.”
Pendekatan sebaya ini dinilai efektif oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pesan perlindungan anak lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian remaja.
Menuju Ekosistem Digital yang Berkeadilan
Literasi digital dan regulasi juga menjadi fondasi penting. Menurut Kementerian Komunikasi dan Digital, regulasi bukan untuk membatasi, melainkan memastikan platform bertanggung jawab dan orang tua mampu mendampingi anak secara optimal.
Pada akhirnya, Safer Internet Day 2026 mengingatkan bahwa perlindungan anak di dunia digital adalah proses berkelanjutan. Ia membutuhkan kerja bersama—dari rumah, komunitas, hingga kebijakan nasional. Bukan hanya demi keamanan hari ini, tetapi demi masa depan generasi yang tumbuh berdaya, aman, dan berani bersuara.