demo.tokoh.co.id/, Jakarta – Hari Ibu kerap dirayakan dengan bunga, kartu ucapan, dan ungkapan terima kasih. Namun di balik perayaan simbolik itu, ada pesan yang jauh lebih mendasar dan sering terlewat: kesehatan ibu adalah fondasi utama keluarga yang kuat, stabil, dan berdaya. Ibu yang sehat—secara fisik, mental, dan emosional—memiliki ruang untuk hadir sepenuhnya, mengambil keputusan dengan jernih, dan menjalani peran tanpa harus mengorbankan dirinya sendiri.

Di tengah tuntutan peran yang berlapis, banyak ibu terbiasa menomorsatukan kebutuhan orang lain. Akibatnya, sinyal kelelahan kerap diabaikan, keluhan ditunda, dan skrining kesehatan dianggap tidak mendesak. Momentum Hari Ibu menjadi saat yang tepat untuk menyetel ulang perspektif: merawat keluarga dimulai dari merawat ibu.

Kesehatan Ibu, Pilar Tak Terlihat Keluarga

Psikolog dari Primaya Hospital Kelapa Gading, Fransiska Xaveria Aryani, M.Psi., menegaskan bahwa kondisi psikologis ibu memiliki dampak langsung pada dinamika keluarga.

“Ibu sering kali menempatkan kebutuhan keluarga di atas dirinya sendiri. Perlu menjadi perhatian jika ibu mengalami kelelahan fisik dan tekanan emosional namun tidak tertangani, hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental ibu, yang kemudian memengaruhi dinamika keluarga secara keseluruhan,” ujarnya melalui rilis yang diterima redaksi Trends.,Senin (22/12).

Stres kronis, kelelahan emosional, hingga perasaan bersalah saat mengambil waktu untuk diri sendiri adalah pengalaman yang jamak dialami ibu. Tanpa dukungan dan deteksi dini, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi. Karena itu, skrining kesehatan mental perlu diposisikan setara dengan pemeriksaan fisik—bukan sebagai pelengkap, melainkan kebutuhan esensial dalam menjaga kesehatan ibu secara menyeluruh.

Baca Juga Makna Isra Miraj 2026: Perjalanan Langit yang Mengubah Arah Hidup Umat Islam

Ancaman Penyakit Tidak Menular bagi Kesehatan Ibu 

Di Indonesia, penyakit tidak menular masih menjadi penyumbang utama penurunan kualitas hidup perempuan. Kanker payudara, kanker serviks, diabetes, serta gangguan metabolik sering kali baru terdeteksi saat memasuki stadium lanjut. Padahal, keterlambatan diagnosis memperbesar risiko, memperumit terapi, dan meningkatkan beban emosional keluarga.

Pendekatan preventif melalui skrining rutin menjadi kunci. Pemeriksaan berkala memungkinkan intervensi lebih dini, peluang kesembuhan yang lebih baik, serta kualitas hidup yang lebih terjaga. Dalam konteks ini, menjaga kesehatan ibu bukan hanya isu personal, melainkan kepentingan keluarga dan masyarakat.

Kehamilan Sehat, Masa Depan yang Lebih Aman

Fase kehamilan menempatkan ibu pada posisi yang sangat krusial. Kesehatan ibu menentukan keselamatan dirinya sekaligus tumbuh kembang janin. Asupan gizi seimbang, dukungan emosional, dan pemantauan medis berkelanjutan menjadi fondasi kehamilan yang aman.

Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Primaya Hospital Bekasi Timur,  dr. Risma Maharani, Sp.OG, MKes, menekankan pentingnya pemeriksaan fetomaternal sebagai bagian dari standar perawatan modern. 

Baca Juga Gumoh pada Bayi, Kapan Perlu Diwaspadai Sebagai GERD?

dr. Risma Maharani, Sp. OG, MKes. (Foto: Istimewa)
dr. Risma Maharani, Sp. OG, MKes. (Foto: Istimewa)

“Pemeriksaan kehamilan tidak hanya sebatas USG rutin. Pemeriksaan fetomaternal juga dibutuhkan untuk membantu mendeteksi risiko sejak dini, baik pada ibu maupun janin, sehingga potensi komplikasi dapat dicegah lebih awal,” jelasnya.

Dengan deteksi risiko yang lebih presisi, keputusan medis dapat diambil lebih cepat dan tepat, meminimalkan komplikasi selama kehamilan hingga persalinan.

Waspada Penyakit Kritis yang Mengintai Perempuan

Kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar bagi perempuan. Data Global Cancer Observatory (Globocan) menunjukkan kanker payudara dan kanker serviks sebagai jenis yang paling sering terjadi pada perempuan Indonesia. Ironisnya, kanker serviks sejatinya dapat dicegah melalui vaksinasi HPV dan skrining rutin.

“Deteksi dini dan vaksinasi adalah dua kunci utama menurunkan risiko kanker serviks. Sayangnya, masih banyak perempuan datang berobat saat sudah bergejala berat,” tambah dr. Risma.

Pernyataan ini menegaskan urgensi edukasi berkelanjutan dan akses layanan kesehatan yang mudah dijangkau bagi perempuan di berbagai tahap kehidupan.

Baca Juga Stroke dan Ilusi Aman: Mengapa Pencegahan Harus Dimulai Jauh Sebelum Serangan

Langkah Nyata Menjaga Kesehatan Ibu

Menjaga kesehatan ibu tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Konsistensi pada kebiasaan sederhana dapat memberikan dampak signifikan:

  • Pemeriksaan kesehatan rutin, bahkan saat tidak bergejala
  • Pola makan bergizi seimbang dan hidrasi cukup
  • Aktivitas fisik ringan 15–20 menit setiap hari
  • Tidur berkualitas untuk pemulihan fisik dan mental
  • Ruang untuk diri sendiri dan pengelolaan stres yang sehat

Merayakan Hari Ibu dengan Kepedulian Nyata

Dalam rangka Hari Ibu, Primaya Hospital menghadirkan Paket Pemeriksaan Hari Ibu yang dirancang komprehensif—mulai dari skrining kesehatan dasar, kesehatan reproduksi, pemeriksaan ibu hamil, hingga perlindungan vaksin.

Merayakan Hari Ibu sejatinya bukan sekadar seremoni. Ini adalah ajakan untuk memastikan ibu memiliki akses pada layanan kesehatan yang tepat dan berkelanjutan. Karena ketika kesehatan ibu terjaga, keluarga memiliki fondasi yang kokoh untuk tumbuh bersama.